PEMIMPIN YANG DIPIMPIN ALLAH
Pdt. Setyahadi
Dipublikasikan pada 01 November 2026
4 min baca

Bacaan: Yosua 3: 7-17

TUHAN berfirman kepada Yosua, “Mulai hari ini Aku akan membuat engkau besar di hadapan seluruh orang Israel, supaya mereka tahu, seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku menyertai engkau” (Yosua 3:7). Firman Tuhan ini merupakan sapaan yang sangat menyentuh dan meneguhkan hati Yosua. Tuhan membersamai Yosua seperti pada zaman kepemimpinan Musa. Yosua tidak dibiarkan memimpin bangsa Israel dengan kekuatannya sendiri. Tuhan tahu bahwa memimpin bangsa Israel bukanlah tugas yang mudah. Oleh karena itu, pernyataan dan penyertaan Tuhan dinyatakan di hadapan seluruh orang Israel guna menguatkan peran Yosua sebagai pengganti Musa di hadapan bangsa Israel. Allah menyertai dan memimpin Yosua dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Sebagai pemimpin yang dipilih Allah, Yosua pun memberi diri seutuhnya untuk hidup dalam pimpinan Allah. Pemimpin yang dipimpin Allah. Di dalamkonteks ini, ada penegasan, sama seperti Allah menyertai Musa, demikianlah Allah akan menyertai Yosua.

Apa yang membuat kepemimpinan Yosua tidak mudah? Pertama, ia dipilih menggantikan Musa sebagai pemimpin umat yang telah “berhasil” membawa membawa umat keluar dari tanah perbudakan di Mesir. Melanjutkan tugas pemimpin besar bukanlah perkara yang mudah. Kedua, tugas yang diberikan kepada Yosua adalah memimpin umat memasuki tanah yang diberikan Allah kepada bangsa Israel (Yosua 1:2). Ini berarti penugasan untuk melakukan perebutan tanah di sebelah barat Sungai Yordan. Yosua harus memimpin umat menyeberangi Sungai Yordan yang pada waktu itu airnya meluap di sepanjang tepinya. Ketiga, bangsa Israel yang dipimpinnya adalah bangsa yang mempunyai track record buruk, rekam jejaknya suka menyimpang ke kanan dan ke kiri serta melawan perintah Allah.

Apa yang membuat kepemimpinan Yosua yang tidak mudah itu “berhasil”? Pertama, ia pemimpin yang mau dipimpin Allah. Kita tahu bahwa dalam praktik hidup sehari-hari, ternyata tidak semua pemimpin yang dipilih oleh Allah bersedia memberi diri untuk hidup dalam pimpinan Allah. Ada pemimpin yang hanya memerhatikan kepentingannya sendiri dan kepentingan kelompoknya sendiri, dan celakanya ia lalu mengabaikan kepentingan bersama. Ujung-ujungnya, ia menjadi pemimimpin yang menyusahkan rakyat dan menyengsarakan kehidupan bersama. Yosua tidak demikian. Di dalam kepemimpinannya, ia memberi diri untuk dipimpin oleh Allah. Yosua tidak mengedepankan ego dan keiinginannya sendiri. Ia mengedepankan kepentingan umat yang dipimpinnya. Kedua, ia mendengarkan perintah Allah. Ketiga, ia taat dan menjalankan perintah Allah.

Beginilah cara Allah memimpin Yosua dan umat Israel memasuki tanah perjanjian. Pertama, para imam akan mengangkut Tabut Perjanjian, dan setelah sampai di tepi Sungai Yordan mereka harus tetap berdiri di situ (ay.8). Tabut Perjanjian yang merupakan simbol kehadiran Allah memimpin umat menyeberangi sungai Yordan. Ketika Allah memutus aliran sungai, bangsa Israel menyeberangi Sungai Yordan (ay.10-13). Kedua, setiap umat yang berjalan di belakang Tabut Perjanjian harus mengambil jarak kira-kira dua ribu hasta. Dalam ukuran jarak yang kita kenal saat ini, satu hasta sama dengan empat puluh lima senti meter. Dengan demikian, jarak umat yang berjalan di belakang Tabut Perjanjian itu kira-kira sejauh sembilan ratus meter (ay.3-4). Ketiga, setiap umat harus menguduskan diri dalam dalam perjalanan memasuki Tanah Perjanjian (ay.5). Ketika Allah memerintahkan ketiga hal ini, Allah sedang mengajarkan sebuah sikap hormat dan taat kepada-Nya. Mukjizat yang dilakukan Allah menuntut persiapan umat secara pribadi. Itulah sebabnya, umat dipanggil untuk menguduskan diri dari segala aktivitas yang bertentangan dengan kehendak Allah. Dan, menjalani hidup dalam pimpinan Tuhan sehingga dapat menyeberangi Sungai Yordan. Dengan demikian, umat beroleh tuntunan Tuhan yang mengantarnya hingga tiba di tanah perjanjian. Amin.

*Pdt. Setyahadi

Kategori
Kotbah Minggu
Bagikan
Artikel Lainnya
Lihat Artikel Lainnya
Bagikan Artikel Ini